Kamis, 27 September 2007

Sebuah Jejak


Gerimis yang datang

Adalah senyum yang tergores di benakku

Tlah terbakar jejak

Dulu di asmaradana.

Waktu berganti cinta

Jejak matamu menyisakan bara

Membaralah rajutan kenangan

Tak lagi

Rumput menentang gairah angin

Tak pula dekapanku tak hangat

Walau usia terkikis senja

Tapi masih dengan senyum yang dulu

Rasa terus menghangat

Harapan yang tak sempat singgah

Tetap menambatkan raga

Sebuah jejak gairah menanti.

Idul fitri


Cahaya protesmu di batu

Jatuh di air tak bergelombang

Ramadhan kandaslagi

membiru cahaya memeluk bumi

Ramadhan dan idul fitri

Merindu pada-Nya

Cinta tak menjadi cinta

Cinta tak menjadi bahagia

Cinta melahirkan nafsu

Takpantas dosa abadi di raga

Idul fitri membasuh sajadah

Sucikan awal sejarah langkah kelamku

Sungai bersalju

Tamparlah bibirku dengan matamu


Cubitlah bibirku ini

Karena kepengecutan

Hembus debu di kelopak mata

Kata bukan lagi gelombang menidurimu

Tamparlah mataku dengan bibirmu

Melihat jiwa nan putihmu

Tersangkar diputing raga

Kecuplah bibirku dengan bibirmu

Jika memang ada cinta

Tergores dilanskap jauh di dalam darahmu

Sebuah kenangan

Sebuah kenangan adalah pelacuran pikiran

Seperti daun tua yang kalah

Pada satu titik hujan yang tajam

lepas sudah usia

Batu dipinggir jalan bak cermin itu

Memantulkan tawa yang sombong

Ia tetap menjadi batu

Walau bayangnya di jalan yang lain

Diatas meja dekat radio

Kitab suci menjulurkan puisinya

Sujudku sebentar lagi usai

Hatiku tetap onani dibalik pikirku.

Sabtu,24 november 2001

Nyanyian pagi hari

pada mata ini ada bekas luka

fosil airmata yang beku

pada angin pagi

tak ada gairah lagi bercinta

cafĂ©,. 2000 ……………….

Selasa, 11 September 2007

Akulah pemuda

Rasakan di butir pagi

Dengan rambut yang rapi

Bunga di tangan

Aku menjemputmu

Inilah janji pemuda

Di goyang asmara

Pandai memainkan melodi birahi

Sekarang bukalah matamu

Kutebak jantungmu

Mari goyangkan pinggulmu

Sebab pemuda ini

Menebar gairah

Memuja selangkangmu

Seperti rumput yang malu pada embun

Ku sentuh bibirmu dengan rasa

Kubiarkan rambutmu jatuh menyentuh kalbu

Akulah pemuda

Jiwa yang membakar cintamu

Tangan yang menyambut nafasmu

Tak Lagi

Kata-kata tak lagi

seperti parang membunuh pagi

Lidahku tak lagi pedang

menikam sunyi

Sekop tak lagi

menyimpan bunga

Wangi mawar tak lagi memesona

kota semakin sunyi

Ladang semakin kering

Bukit tak punya tembakau

Kemarau masuk kamar-Mu.